Sabtu, 13 April 2013

CARA CEPAT BELAJAR AL-QUR'AN METODE TARTILI



Responden                   : Syaiful Rohman
Jabatan                         : Tutor Tartili Wilayah Jawa, dan Sumatra
1.       Apa pengertian dari  tartili?
Tartili berasal dari kata tartiilan (ترتيلا) yang berarti, pelan, atau kalem (bhs Jawa), sedangkan tartil menurut istilah adalah membaca Al-Qur’an dengan suara pelan namun tidak menghilangkan makhraj, shifat, serta tajwidnya Al-Qur’an.
2.       Bagaimanakah konsep pembelajaran tartili?
Tartili terdiri dari 55 halaman X 4 jilid dengan ketentuan:
I.                    Jilid satu
1.1               Pengenalan huruf hijaiyah 28
Ø  Hal 1, Huruf alif-ya’ (أ-, disertai pengenalan kharakat ; fathah.
Ø  Hal 43, pengenalan kharakat kasrah.
Ø  Hal 49, pengenalan kharakat dlomah.
II.                  Jilid dua
2.1               Membaca huruf sambung
Ø  Hal 1-11, huruf alif-ya’
Ø  Hal 12, pengenalan fathah tanwin (kharakat dobel)
Ø  Hal 17, pengenalan kasrah tanwin
Ø  Hal 22, pengenalan dlomah tanwin
2.2               Membaca panjang pendek (dua ketukan)
Ø  Hal 30, fathah diikuti alif
Ø  Hal 35, fathah berdiri
Ø  Hal 39, kasrah diikuti ya’ sukun (mati)
Ø  Hal 43, dlomah diikuti wawu sukun (mati)
Ø  Hal 48, kasroh berdiri, dlomah terbalik
III.                Jilid tiga
3.1               Membaca huruf sukun (mati)
Ø  Hal 1, alif – ya’
Ø  Hal 6 & 10, alif lam (al ta’rif)
Ø  Hal 13, fathah diikuti ya’ sukun (huruf  layn)
Ø  Hal 16, fathah diikuti wawu sukun
3.2               Menerapkan mahraj serta sifat huruf
Ø  Hal 27-31, bacaan qol-qolah
Ø  Hal 35, huruf bertasdid (dobel)
Ø  Hal 39, al-syamsiyah
Ø  Hal 51, al-jalalah (tarqiq, tafhim / tipis, tebal) 
IV.                Jilid empat
4.1               Bacaan dengung
Ø  Hal 1, nun & mim yang di tasdid
Ø  Hal 13, nun mati dan tanwin bertemu huruf ikhfa’
Ø  Hal 19-21, bacaan idgham bighunnah
Ø  Hal 23, nun mati dan tanwin bertemu huruf ba’ (iqlab)
Ø  Hal 25, mim mati bertemu huruf ba’
Ø  Hal 27, mim mati bertemu huruf mim
4.2               Tidak boleh dibaca dengung (harus dibaca jelas)
Ø  Hal 29, nun mati dan tanwin bertemu huruf lam
Ø  Hal 31, nun mati dan tanwin bertemu huruf ro’
Ø  Hal 33-35, nun mati dan tanwin bertemu dengan huruf idzhar
4.3               Bacaan mad
Ø  Hal 37, panjang lima ketukan / 2,5 alif
4.4               Tanda waqaf (berhenti)
Ø  Hal 47, harus berhenti
Ø  Hal 49, berhenti disalah satu titik (mu’anaqoh)
3.       Mengapa tartili menjadi judul dalam pembelajaran method tersebut, dan apa landasannya?
Judul diambilkan sesuai dengan artinya, yaitu bahwa membaca Al-Qur’an yang paling baik adalah dengan cara tartil, sesuai dengan firman Alloh: ورتل القران ترتيلا
4.       Siapakah yang mengembangkan method tersebut, mohon jelaskan riwayat dan asal mencetus method tersebut?
Methode tartili dikarang langsung oleh:  Alhafidz Ustd Syamsul Arifin . Beliau adalah pengasuh Pon Pes DARUL HIDAYAH, Kesilir, Wuluhan, Jember, Jawa Timur.
Dulu beliau pernah dipercaya sebagai coordinator method Qira’ati se- Wilayah Jawa dan Bali, kemudian pada pertengahan tahun 2000 beliau menciptakan method sendiri yang diberi nama “METODE BELAJAR AL-QUR’AN TARTILI”
5.       Darimanakah asal method tersebut muncul?
Pertama gagasan itu muncul dari pemikiran beliau sendiri, serta didorong oleh keinginan para teman seperjuangan
6.       Latar belakang di ciptakannya metode tartili adalah:
A.      Intern
Dulu sebelum metode tartili muncul sudah ada beberapa metode yang mengajarkan tentang cara cepat belajar membaca  Al-Qura’an,  diantaranya Metode Iqro’, Qira’ati, Dirosati, Tartila, Yanbu’a. Namun karna dirasa metode-metode tersebut kurang efesian, menjenuhkan, serta memerlukan terlalu banyak waktu maka beliau sepakat untuk menciptakan metode sendiri.
B.      Ekstern
Pengarang metode tartili adalah orang yang dulu pernah berjasa besar dalam mengembangkan metode Qiro’ati wilayah Jawa dan Bali, sementara itu, metode Qira’ati pengarangnya berada di Semarang Jawa Tengah, sedangkan beliau menetap di daerah Jember jawa timur sehingga beliau kesulitan mendatangkan kitab / buku Qira’ati tersebut , lantas atas dasar itu beliau mencipkan metode yang diberi nama Metode Tartili.
7.       Sejauh manakah perkembangan metode tartili pada saat ini?
Sejak pertama kali metode tartili muncul, yaitu mulai pertengahan tahun 2000 – sekarang, Alhamdulilah sudah berkembang pesat lebih dari 850 Lembaga Pendidikan Al-Qur’an yang memakai method tartili,  khususnya di Wilayah Jawa Timur, Kudus, Semarang, Jakarta,dan Bali, bahkan baru-baru ini telah berkembang di  Wilayah Sumatra, terutama daerah Lampung, dan Bengkulu. 
8.       Kepada siapakah metode tartili tersebut dapat diajarkan/disampaikan?
Metode tartili boleh diajarkan kepada siapapun tdak ada batasan usia, mulai anak usia 4-5 tahun (anak PAUD/TK), usia 6-12 tahun (anak SD/MI), usia 13-15 tahun (anak SMP/MTs), usia 16-18 tahun (anak SMA/MA), bahkan boleh diajarkan kepada Mahasiswa (Jakarta & Malang) , dan Masyarakat umum (Ibu-ibu), yang memang belum pernah belajar  / belum bisa sama sekali membaca Al-Qur’an.
9.       Terdiri dari berapa jilid metode tersebut, mohon jelaskan penekanan- penekanan yang diterapkan pada masing-masing jilid?
Tartili terdiri dari 4 jilid:
Jilid Satu, penekanan pada:
ü  Huruf hijaiyah 28
ü  Kharokat;  fathah, kasrah, dlomah
ü  Membacanya dengan cepat
Jilid Dua, penekanan pada:
ü  Panjang pendek yang dua ketukan(mad tabi’i)
ü  Huruf sambung
ü  Kharokat; fathah tanwin, kasrah tanwin, dlomah tanein.
ü  Tidak boleh salah membaca huruf.
Jilid Tiga, penekanan pada:
ü  Mahraj serta sifat huruf
ü  Huruf mati (sukun)
ü  Tidak boleh salah huruf dan panjang pendek harus lancar
Jilid Empat, penekanan pada:
ü  Bacaan dengung (hunnah, ihfa’, iqlab)
ü  Tanda waqaf (berhenti)
ü  Panjang lima ketukan (mad wajib)
ü  Membaca dengan benar sesuai dengan qaidah tajwid Al-qur’an.
10.   Mulai tahun berapakah metode tersebut dimulai?
Tahun 2000 M
11.   Mohon sebutkan keunggulan dan kelemahan metode tartili tersebut!
A.      Keunggulan
ü  Terdiri hanya 4 jilid,55 halaman perjilid,  sehingga tidak terlalu banyak makan waktu.
ü  Waktu relative singkat, (7,5 bulan)
ü  Boleh diajarkan kepada siapa saja tanpa batas usia
ü  Menggunakan system klasikal baca simak (satu membaca yang lain menirukan) sehingga mudah faham dan hafal, karna di ulang-ulang sebanyak siswa dalam satu kelas itu.
ü  Tidak membutuhkan terlalu banyak Guru/Ustadz (satu guru bisa mengajar tujuh kelas sekaligus).
B.      Kelemahan
ü  Bagi anak yang daya fikir nya agak lemah, maka ia akan sering merasa kesulitan,
ü  Bagi anak yang sering tidak hadir, maka ia akan ketinggalan pelajaran, karna satu kls halamannya sama.
12.   Upaya apakah yang telah diterapkan untuk pengembangan metode tersebut agar metode tersebut dapat diterima oleh masyarakat?
Sosialisasi / penyuluhan pada lembaga-lembaga yang berkaitan dengan pengajaran Al-qur’an, yaitu dengan cara Penataran, Diklat, Pembinaan, dan Work Shop pada Guru / Ustadz dan Ustadzah Calon pengajar Al-Qur’an.
13.   Mohon dijelaskan metode pembelajaran tartili secara umum!
Metode tartili adalah suatu cara untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan cepat, secara kelompok (kelas) dengan system klasikal baca simak (satu membaca yang lain menirukan), sehingga tidak terlalu membutuhkan banyak guru/ustadz.
14.   Adakah buku yang dijadikan pembelajaran metode tartili?
Buku yang khusus tidak ada, namun sebagai pertimbangannya adalah pada buku-buku metode terdahulu yang pernah Pengarang Ampu /jalankan sebelumnya.
15.   Apakah sudah ada pengakuan dari pihak yang berwenang tentang pengembangan metode tersebut?
Sudah ada, yaitu dari LP MA’ARIF NU Wilayah Jawa Timur.           

By. ZEE_MAN COM